kumpulan artikel Ushul Fiqh

Dana hari tua

Pada suatu hari di masa kekhalifahan imam Ali bin Abi thalib, beliau berjalan di salah satu jalanam Kufah lalu melihat seorang tua yang meminta-minta bantuan.

Imam Ali bertanya: Mengapa orang tua itu meminta-minta bantuan?

Mereka menjawab: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ia seorang lelaki Nasrani.

Imam berkata: Saat ia muda dan kuat kalian mempekerjakannya dan kini saat ia tua dan lemah kalian meninggalkannya?

Akhirnya Imam Ali as memerintahkan mereka untuk memberinya gaji bulanan dari Baitul Mal.

Apakah filsafat merupakan penyempurna Islam?

Tanya: Apakah segalanya yang terkandung dalam Filsafat Yunani dapat ditemukan dalam kumpulan ayat-ayat kitab suci Islam dan ucapan-ucapan nabi dan para imam? Kalau memang dapat ditemukan, lalu apa gunanya kita mengkaji Filsafat? Kalau tidak dapat ditemukan, apakah berarti Filsafat Yunani telah berjasa dalam menyempurnakan agama kita?

Jawab: Penjelasan-penjelasan agama yaitu kandungan kitab suci dan sunnah mencakup ajaran-ajaran yang berkenaan dengan keyakinan baik secara global maupun detail. Akan tetapi penjelasan-penjelasan ini, karena ditujukan untuk semua kalangan umat manusia baik yang pandai maupun yang tidak, telah disesuaikan kadarnya dengan pemahaman masyarakat awam. Ajaran-ajaran Islam telah dijelaskan sesederhana mungkin sehingga dapat dipahami oleh siapapun. Dengan demikian, jika kita ingin mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam lagi, yakni jika kita ingin mendalami ajaran Islam, terpaksa kita harus mengadakan kajian-kajian ilmiah lainnya.

Keberadaan penjelasan-penjelasan agama seputar ketuhanan dan lain sebagainya tidaklah menyebabkan kita sudah cukup dari pengetahuan Islam yang paling dalam. Kita tetap membutuhkan ilmu-ilmu yang lain sebagai sarana pendalaman pemahaman. Ilmu-ilmu yang lain juga seperti Filsafat Yunani (Ilahiyat), misalnya Ilmu Kalam (Teologi), yaitu ilmu yang tersusun dari sekumpulan dalil-dalil agamawi yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis yang membahas berbagai macam permasalahan keyakinan dan akidah. Untuk mendalami ajaran-ajaran Al-Qur’an dan hadis, kita juga sangat memerlukan ilmu ini.

Adapun pertanyaan Anda “… Kalau tidak dapat ditemukan, apakah berarti Filsafat Yunani telah berjasa dalam menyempurnakan agama kita?”, andai saja kenyataannya memang demikian, maka itu artinya Islam adalah agama yang tidak sempurna lalu Filsafatlah yang menyempurnakan kekurangan-kekurangan tersebut. Hanya saja kenyataan yang sebenarnya tidaklah seperti ini.

Tidak adanya suatu ilmu dalam ajaran Islam bukan berarti keberadaannya telah menyempurnakan ajaran tersebut. Misalnya, kita menyadari bahwa tanpa memiliki logika yang benar dan menguasai ilmu logika, kita tidak dapat memahami ajaran-ajaran Islam dengan benar lalu menjelaskannya kepada orang lain. Lalu apakah keberadaan ilmu Logika merupakan penyempurna ajaran Islam?

Sebagai contoh lain, kita juga memahami bahwa tanpa menguasai ilmu Ushul, kita tidak dapat memahami hukum-hukum Fiqih dengan benar lalu menghukumi sesuai dengan hukum-hukum tersebut. Maka apakah keberadaan ilmu Ushul merupakan penyempurna ajaran Islam? Tidak. Keberadaan Ilmu logika dan ilmu Ushul bagi ajaran Islam ibarat jalan yang dapat dilewati dalam rangka memahami ajaran tersebut. Jelas sekali bahwa keberadaan jalan tidak dapat disebut sebagai penyempurna.

Islam dan logika

Mungkin anda pernah bertanya apa hubungan antara Islam dengan logika. Apakah keduanya saling bertentangan atau tidak?

Jawabannya tidak. Kami meyakini bahwa segala yang dibenarkan logika pasti juga dibenarkan syari’at. Hanya saja logika tidak selalu bisa memahami apa yang dibenarkan syari’at.

Artinya, segala yang masuk akal bagi logika pasti juga dibenarkan agama; namun tidak semua yang dijelaskan syari’at pasti difahami logika. Coba perhatikan dua contoh di bawah ini:

Contoh yang pertama, logika berkata bahwa berbuat baik kepada orang tua adalah suatu keharusan. Syari’at pun membenarkannya. Logika menyatakan hal itu meskipun syari’at belum menyatakan hal yang sama.

Contoh yang kedua, syariat memerintahkan kita untuk shalat subuh dua raka’at. Tetapi logika kita tidak mampu memahami, sekali lagi, tidak mampu memahami, mengapa harus subuh? Mengapa harus dua raka’at? Saya perlu menekankan bahwa logika hanya tidak mampu memahami, bukan menyatakan tidak logis. Dengan demikian, dalam contoh kedua tidak ada pertentangan antara logika dan Islam; yang ada hanya terkadang logika tidak mampu memahami.

Pernyataan “terkadang logika tidak mampu memahami” bukanlah hal yang serius. Logika manusia terbatas atas skema pemikiran yang didapatnya selama hidup. Cukup masuk akal jika kita mendengar bahwa sesuatu yang belum kita ketahui jauh lebih banyak daripada yang telah kita ketahui.

Keterbatasan logika inilah yang membuat kita senantiasa membutuhkan agama.

Akhlak mulia dan kedermawanan

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari berkumpul tiga orang musyrik. Mereka berniat untuk membunuh nabi Muhammad saw.

Niat mereka digagalkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as. Salah satu dari sempat dibunuh oleh Imam Ali as sebelum mencapai tujuannya.

Imam Ali as membawa kedua orang lainnya menghadap nabi. Saat nabi meminta salah satu musyrik yang tersisa untuk mengimaninya, musyrik itu menolak dan berkata: “Demi berhala-berhalaku, lebih baik aku memindahkan gunung daripada mengimanimu.” Akhirnya nabi pun memerintahkan Imam Ali as untuk mengakhiri hidupnya. Musryik itu pun terbunuh.

Tiba giliran musyrik terakhir, ia diminta nabi untuk mengimaninya. Namun ia pun menolak. Saat sang nabi hendak memerintahkan Imam Ali as untuk membunuhnya, malaikat Jibril turun dan menyampaikan pesan kepada nabi: “Wahai nabi, sesungguhnya Allah swt menyampaikan salam-Nya kepadamu. Janganlah kau bunuh lelaki itu, karena ia adalah orang yang dermawan di antara kaumnya dan berperangai mulia.”

Akhirnya nabi pun meminta Imam Ali as untuk melepaskannya, dan mengatakan apa yang disampaikan oleh Jibril kepadanya.

Musyrik itu pun terheran, lalu bertanya kepada nabi: “Apakah Tuhanmu yang memberitahumu hal itu?” Nabi menjawab: “Ya.” Lalu musyrik itu berkata: “Aku memang tidak pernah menyimpan uang sedangkan saudaraku membutuhkannya. Aku juga tak pernah bermuka masam terhadap semua orang dalam keadaan apapun.” Akhirnya lelaki itu pun mengimani nabi Muhammad saw.

Tahrif Qur’an: surah Al-Ahzab lebih panjang dari yang ada sekarang?

1. Dari Aisyah telah diriwayatkan: “Di jaman Rasulullah saw surah Al-Ahzab memiliki 200 ayat, namun kita tidak mendapatkannya selain apa yang ada sekarang.”[1] Dan dalam Muhadharat Raghib disebutkan: “Seratus ayat.”[2]

2. Diriwayatkan dari Umar, Ubaiy bin Ka’ab, dan Ikrimah maula Ibnu Abbas: “Surah Al-Ahzab pada mulanya lebih panjang daripada surah Al-Baqarah dan ayat rajam ada di dalamnya.”[3]

Ibnu Shalah mengatakan bahwa maksud surah itu lebih panjang sebelmnya adalah tafsir-tafsir surah tersebut. Dan Suyuthi menyebut Ibnu Hazm telah berpendapat dengan naskh tilawah. Semua orang yang memperhatikan riwayat-riwayat tersebut dengan jeli bakal menyadari betapa banyak ikhtilaf dan perbedaan tentang seberapa panjang surah Al-Ahzab, yang mana hal itu menjadi bukti kebatilannya.


[1]. Al-Itqan: jil. 3, hal. 82; Tafsir Qurthubi: jil. 14, hal. 113; Manahilul ‘Irfan: jil. 1, hal. 273; Ad-Durr Al-Mantsur: jil. 6, hal. 560.

[2]. Muhadharat Raghib: jil. 2, hal. 434.

[3]. Al-Itqan: jil. 3, hal. 832; Musnad Ahmad: jil. 5, hal. 132; Al-Mustadrak: jil. 4, hal. 356; As-Sunanul Kubra: jil. 8, hal. 211; Tafsir Qurthubi: jil. 14, hal. 113; Al-Kasyif: jil. 5, hal. 518; Manahilul Irfan: jil. 2, hal. 111; Ad-Durr Al-Mantsur, jil. 6, hal. 559.

Surga yang sebenarnya

Al-Qur’an turun untuk mengingatkan umat manusia akan adanya adzab yang pedih di akherat nanti bagi para pendosa. Al-Qur’an datang mendorong orang-orang awam untuk bertakwa dengan imbalan surga.

Neraka dan surga, dijanjikan oleh Allah swt kepada umat manusia sesuai dengan amal perbuatannya. Seperti apakah neraka dan surga yang sebenarnya, inilah yang sering sekali dibahas dan tak sedikit perbedaan pendapat terkait dengannya.

Neraka, adalah siksaan. Siksaan itu akan diberikan kepada orang-orang yang amal perbuatannya buruk di dunia ini. Sedangkan surga adalah balasan berupa kenikmatan untuk hamba-hamba Allah yang berbuat baik di dunia ini.

Al-Qur’an berkali menggambarkan surga dan neraka dalam ayat-ayatnya. Surga digambarkan dengan kebun dengan sungai-sungai yang mengalir. Sedang neraka digambarkan sebagai siksaan api yang membakar tak ada hentinya.

Neraka digambarkan sebagai seburuk-buruknya balasan, dan surga sebagai sebaik-baiknya ganjaran.

Jika kita melogika, kita tidak akan membaca ayat-ayat yang menggambarkan surga dan neraka begitu saja dengan sudut pandang materi. Ya, memang Al-Qur’an menggambarkan neraka dengan “api”, karena kita memang tahu api membakar dan menyakitkan. Surga pun digambarkan dengan “kebun dan sungai” karena itu indah.

Jika kita menggambarkan surga dan neraka dengan mengumpulkan gambaran-gambaran kita tentang api dan kebun nan hijau yang telah ada di benak kita yang sebelumnya, seperti apapun kita menggambarkannya, itu bukanlah neraka dan surga yang sebenarnya. Karena nyatanya neraka dan surga yang hakiki sama sekali tidak bisa kita bayangkan, dan faktanya neraka lebih pedih dari segala kepedihan yang kita bayangkan, dan surga lebih indah dari segala keindahan yang kita bayangkan.

Pikiran dan pembayangan (daya membayangkan) di pikiran kita sangat terbatas sekali. Karena segala yang kita bayangkan adalah kumpulan dari gambaran-gambaran yang telah kita miliki sebelumnya.

Misalnya, contoh sepelenya begini, anggap saja anda belum pernah melihat kuda laut. Namun anda pernah melihat kuda sebelumnya, begitu juga laut. Lalu saat anda mendengar kata “kuda laut” dengan segera anda pasti membayangkan seekor kuda (sebagaimana kuda di darat yang anda tahu itu) hidup di bawah laut. Jelas apa yang ada di pikiran anda tidak sama dengan kenyataan yang ada. Karena kuda laut sama sekali berbeda dengan kuda di darat…

Begitu juga neraka dan surga. Seperti apapun anda membayangkan dan menggambarkannya di pikiran anda, anda tidak akan menggapainya. Yang jelas banyak sekali riwayat yang mengatakan bahwa apa yang ada di akherat kelak semua lebih dari apa yang kita bayangkan.

Apa yang dijelaskan oleh Al-Qur’an tentang surga dan neraka adalah “pendekatan” untuk pikiran kita sehingga paling tidak kita bisa membayangkan seperti apa neraka dan surga itu, meskipun kenyataannya jauh di luar bayangan kita.

Sederhana sekali, bagi orang-orang Arab jahiliah, kebun dan sungai-sungai yang mengalir bagi mereka adalah suatu keindahan. Karena di Arab jarang sekali ditemukan kebun-kebunan. Sedang bagaimana dengan bangsa lain? Orang-orang Indonesia misalnya, mereka telah terbiasa dengan nuansa hijau dan pemandangan yang indah. Kurang lebih ketertarikan antara orang-orang Indonesia dengan orang-orang Arab terhadap kebun dan sungai jelas berbeda. Jika yang dimaksud Tuhan dengan surga adalah kebun dan sungai-sungai yang mengalir “itu saja”, itu tidak mungkin. Kalau begitu gambaran yang diberikan Qur’an hanyalah “gambaran”, yang kenyataannya lebih jauh lagi “pedih” atau “indah” dari yang digambarkan.

Apa dalilnya mentaati imam adalah sarat masuk surga?

Tanya: Jika kebahagiaan abadi di akhirat, yakni hidup di surga, mensyaratkan ketaatan terhadap para Imam Syiah, lalu mengapa dalam Al-Qur’an hanya dijelaskan mengenai ketaatan Allah dan Rasul-Nya saja? Misalnya dalam ayat-ayat ini:

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An Nisa’: 69)

Dan juga ayat ini:

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekAl-di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.“ (An Nisa’: 13)

Jawab: Ketaatan terhadap Tuhan dan Rasul-Nya adalah rukun Islam. Namun ayat di atas tidak diturunkan untuk menjelaskan semua rukun iman. Karena ada ayat-ayat lainnya yang mana ketaatan terhadap para Imam di situ diperintahkan.

Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisa’: 59)

Ayat ini menambahkan ketaatan terhadap Ulil Amr kepada dua ketaatan sebelumnya. Dalam hal ini, tidak ada bedanya kita mau menafsirkan Ulil Amr seperti apa.

Di ayat yang lain, Allah swt memerintahkan kita untuk tidak mengumbar rahasia yang berkenaan dengan masalah-masalah sensitif kepada setiap orang, melainkan hendaknya kita membicarakannya kepada Ulil Amr.[1]

Tuhan memerintahkan kita untuk mentaati Rasulullah saw. Rasul pun memerintahkan kita untuk mentaati Tsaqalain.

Ahmad bin Hambal berkata: “Mentaati pemerintah, entah pemerintah itu baik atau buruk, adalah wajib hukumnya. Setiap orang yang mengenakan pakaian kekhilafahan lalu diikuti oleh semua orang, ataupun orang yang mencapai kedudukan ini dengan pedangnya dan menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin, maka ia wajib ditaati.”[2]

Abu Ja’far Thahawi, dalam risalahnya yang berjudul Bayan As Sunnah wal Jama’ah yang saat ini juga diajarkan di kampus-kampus Madinah, menulis: “Kita dilarang membelot dan membangkang terhadap pemerintah kita, meskipun pemerintah kita itu bejat. Kita harus selalu mentaati mereka, karena ketaatan terhadap mereka adalah ketaatan terhadap Tuhan, selama kita tidak diperintah mereka untuk bermaksiat.”[3]

Seakan sang penanya tidak terlalu memahami kedudukan khalifah meski menurut sudut pandang mazhabnya sendiri. Karena ada hadits-hadits yang berbunyi:

“Barang siapa mati sedang ia tidak dalam keadaan berbai’at kepada seorang pemimpin, maka ia mati dalam keadaan jahil (bodoh).”[4]


[1] An-Nisa’: 83.

[2] Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, Muhammad Abu Zuhrah, hlm. 322.

[3] Syarhul Aqidah Al-Thahawiyah, hlm. 111.

[4] Musnad Ahmad, jld. 2, hlm. 96.

Oleh Muhammad Thabari, dalam bukunya yang berjudul “Jawaban Pemuda Syiah atas Pertanyaan-Pertanyaan Wahabi”

Tertutupnya kemungkinan tahrif Qur’an

Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an telah tersebar secara menyeluruh dan menjadi masyhur, dan telah disusun secara rapi juga teratur pasca kekhalifahan Utsman bin Affan. Saat itu banyak sekali salinan Qur’an yang telah disebarkan dan dijadikan sebagai patokan untuk membaca dan pengamalannya. Banyak perintah yang menegaskan agar umat Islam tidak menggunakan salinan Qur’an lain yang tak resmi.

Untuk menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak diselewengkan (ditahrif), perlu kita mengkaji kondisi masa-masa di mana dimungkinkan saat itu Al-Qur’an terselewengkan:

1. Ada kemungkinan tahrif Al-Qur’an terjadi di jaman Syaikhain (Abu Bakar dan Umar bin Khattab) dengan cara tidak sengaja ada bagian dari Al-Qur’an, yang sebabnya adalah kelalaian atau tidak ditemukannya bagian yang terlupakan itu. Sebagaimana hal ini pernah disinggung dalam masalah pengumpulan Qur’an yang dijelaskan oleh Bukhari.

2. Tahrif di jaman Abu Bakar dan Umar mengandung unsur kesengajaan, dengan kemungkinan mereka melakukan hal itu secara terorganisir.

3. Tahrif Al-Qur’an terjadi di jaman Utsman.

4. Tahrif Al-Qur’an terjadi di jaman Bani Umayah, sebagaimana hal itu pernah dituduhkan kepada Hajjaj bin Yusuf Tsaqafi.

5. Kemungkinan yang kelima juga ada, yang nyatanya hal itu tak mungkin, yakni tahrif dilakukan oleh sebagian orang awam. Karena orang awam saat itu adalah orang-orang yang patuh dan berada di bawah pemerintahan Islami yang berdasarkan Qur’an, dan mereka pun memahami nilai Al-Qur’an, bahkan mereka menjunjung tinggi Qur’an pula.

Kemungkinan pertama: Terjadinya tahrif di masa Syaikhain

Kemungkinan ini dapat disanggah dari dua sisi:

A. Telah dibuktikan sebelumnya bahwa upaya penyusunan Qur’an secara sempurna telah dilakukan di masa Rasulullah saw masih hidup. Jika demikian, kita tidak bisa membenarkan adanya kemungkinan di jaman Abu Bakar dan Umar hal itu terjadi, tak mungkin ada ayat yang tidak sampai ke tangan mereka dari sebelumnya.

B. Banyak sekali faktor yang menyebabkan keberadaan Al-Qur’an secara sempurna di tangan sebagian orang di antara umat Islam saat itu. Dengan demikian jelas Al-Qur’an secara utuh pula sampai ke tangan Syaikhain. Faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut secara ringkas:

1. Al-Qur’an adalah matan sastra yang sangat tinggi, dan umat Islam sangat mementingkannya, mereka pun cenderung menghafalkannya. Budaya mereka pun lahir dari Al-Qur’an. Kita pun dengan jelas menyaksikan entusias mereka terhadap kitab suci ini. Secara umum masyarakat Arab sangat menyukai kesuastraan. Mereka sejak dahulu suka menghafal syair-syair, bahkan mereka suka mengadakan perlombaan-perlombaan membaca syair. Mereka sejak jaman jahiliah telah memberikan perhatian khusus kepada matan-matan sastra, dan menyimpannya di tempat khusus, sebagaimana kita melihat mu’allaqat sab’ atau mu’allaqat ‘asyr (syair-syair pilihan jaman jahiliah yang digantung di dinding ka’bah) dihormati sedemikian rupa.

Kebiasan itulah yang mendorong orang-orang Arab, khususnya Muslimin, untuk menghafalkan Al-Qur’an.

2. Al-Qur’an merupakan salah satu tiang utama budaya, pemikiran dan akidah umat Islam. Oleh karena itu mereka memberikan perhatian yang sangat banyak terhadap kitab suci itu. Karena itu juga Rasulullah saw bersungguh-sungguh dalam penyususnan Qur’an dan mengawasinya dengan sangat ketat agar terjaga dari tahrif dan penyalahgunaan. Umat Islam selalu menghafal, membaca dan mengkaji Al-Qur’an agar mereka memahami ajaran-ajaran suci agamanya lalu mempraktekkannya dalam hidup mereka.

3. Karena Al-Qur’an memiliki kedudukan yang istimewa, setiap orang yang bekerja dalam pengumpulan dan penyusunan Qur’an memiliki martabat tinggi di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana saat ini masyarakat begitu menghormati dan memuliakan para ulama.

Martabat itulah yang merupakan salah satu faktor keterjagaan Al-Qur’an. Sejarah membuktikan kepada kita bahwa para qari’ dan hafidz Qur’an memiliki kedudukan yang tinggi di tengah-tengah umat Islam dan diperlakukan secara istimewa. Lalu dengan demikian banyak yang berminat untuk menghafal dan bekerja dalam penyusunan Qur’an.

4. Rasulullah saw yang merupakan pemberi hidayah dan petunjuk kepada Muslimin, selalu menekankan umatnya untuk menghafal dan banyak membaca Al-Qur’an. Kita pun tahu bahwa Rasulullah saw memiliki kedudukan yang mulia dan amat luhur bagi umat beliau, pemikiran-pemikira beliau pun secara luar biasa sangat berpengaruh pada umatnya. Hal itu membuat umat Islam patuh sepenuhnya kepada peritntah-perintah beliau, terutama berkaitan dengan Al-Qur’an.

5. Banyaknya pahala yang telah dijelaskan oleh nabi untuk orang-orang yang menghafal dan membaca Al-Qur’an membuat Muslimin terdorong untuk melakukannya. Begitu juga orang-orang yang baru masuk Islam; mereka juga terdorong untuk itu agar Islam benar-benar nampak pada diri dan prilaku mereka.

Sebagian atau seluruh perkara itu sangat mempengaruhi hidup umat Islam. Sebagian sumber sejarah menjelaskan kepada kita betapa banyak jumlah hafidz dan qari’ Qur’an yang mana mereka memiliki akidah dan pemikiran yang lurus. Tak hanya itu saja, mereka juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial umat Islam. Sering kali saat sebagian orang berikhtilaf, mereka lah yang dijadikan rujukan dan tolak ukur kebenaran.

6. Selain itu, jelas sekali setiap orang yang memiliki kemampuan untuk menulis dan menysun kitab suci, pasti menggunakan kemampuan itu dan melakukannya. Karena jelas salah satu jalan untuk mengabadikan Al-Qur’an adalah dengan menuliskannya, maka mereka yang mampu untuk menulis menyegarakan diri untuknya.

Oleh karena itu kita sering membaca dalam sebagian riwayat bahwa banyak sekali sahabat yang memiliki salinan-salinan pribadi mereka terhadap ayat-ayat dan surah-surah Al-Qur’an.

Berdasarkan faktor-faktor di atas, kita dapat memastikan bahwa di jaman para shabat, Al-Qur’an yang ada di sisi mereka adalah Al-Qur’an yang seutuhnya, tanpa ada kemungkinan mereka kehilangan sebagian dari Al-Qur’an.

Kemungkinan kedua: Tahrif Al-Qur’an di jaman Syaikhain secara terorganisir

Kemungkinan ini pun sama sekali tidak benar. Karena tahrif secara sengaja dapat dilakukan karena salah satu dari dua sebab ini:

1. Dikarenakan keinginan pribadi;

2. Untuk mengejar kepentingan politik, misalnya karena ada ayat-ayat yang bertentangan dengan kepentingan politik Syaikhain.

Tentang yang pertama, kita perlu perhatikan beberapa masalah di bawah ini:

1. Jika Abu Bakar dan Umar melakukan hal itu, berarti mereka telah mealnggar ketentuan yang telah ditetapkan sebuah pemerintahan Islami saat itu. Pemerintahan saat itu adalah pemerintahan Islami yang merupakan peninggalan nabi, dan jelas tak masuk akal jika mereka sebagai “orang-orag pemerintah” menyalahgunakan Al-Qur’an dan menyelewengkannya atau memusuhi Al-Qur’an, yang sama sekali tak menguntungkan mereka. Apakah perbuatan seperti itu tidak bertentangan dengan aturan umum yang pasti dan harus dipatuhi? Apakah hal itu tidak bakal menyebabkan kudeta dan amarah masyarakat umum terhadap pelakunya yang secara pati disebut sebagai penentang Islam?

2. Umat Islam saat itu memiliki sandaran sosial dan politik yang sangat kuat yang tidak mungkin membiarkan segala gerakan yang bertentangan. Kondisi itu membuat setiap gerakan yang menentang Islam tak mungkin dilakukan dengan mudah, dan umat Islam pasti secara tegas akan mengadili pelakunya. Al-Qur’an dipandang oleh umat Islam secara sakral. Mereka tidak bersedia ada yang merubah sedikitpun kalam Allah, dan bahkan nabi sendiri tidak melakukannya; sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah swt dalam kitab suci itu. Allah swt berfirman: “” (QS. Yunus: 10)

Di bawah naungan Qur’an umat Islam pergi berjihad di jalan Allah swt, dan mereka hidup dengan Al-Qur’an selama 23 tahun. Mereka telah mengorbankan harta dan nyawa mereka di jalan Al-Qur’an. Menyalahgunakan Al-Qur’an sama artinya dengan keluar dari lingkaran agama dan murtad.

3. Memang dalam sejarah kita membaca banyak kritikan masyarakat terhadap kekhalifahan Syaikhain dalam hal menjalankan hukum. Namun kita sama sekali tidak melihat adanya satupun kritikan terhadap mereka terkait perubahan dan tahrif Al-Qur’an.

Jika memang Syaikhan mentahrif Al-Qur’an, mana mungkin umat Islam diam saja dan tidak terdengar kritikan mereka sama sekali?

Dengan penjelasan ini, jelas pula dengan yang kedua:

1. Karena umat Islam meyakini Al-Qur’an sebagai kitab Allah yang suci, maka mereka sama sekali tidak membenarkan perubahan, penyalahgunaan dan tahrif Al-Qur’an.

2. Tahrif Al-Qur’an tak mungkin dilakukan begitu saja tanpa konfrontasi dan keributan. Kita pun tak pernah melihat ada yang mengkritik dan menyalahkan khalifah terkait tahrif Al-Qur’an.

3. Dalam sejarah banyak sekali disebutkan pertentangan-pertentangan sebagian kelompok seperti Ahlul Bait as terhadap para khalifah. Namun tak satu pun dalam pertentangan dan perdebatan mereka terdengar satu ayat pun yang tidak ada di Al-Qur’an kita saat ini. Jika memang ada ayat-ayat tertentu yang tidak disebutkan di Qur’an yang ada, jelas mereka pasti menggunakan ayat itu untuk membuktikan kebenaran ucapan setiap orang dari mereka. Nyatanya tidak demikian.

Kemungkinan Ketiga: Tahrif Al-Qur’an di jaman Utsman bin Affan

Benarnya kemungkinan ini lebih susah lagi untuk dibuktikan. Karena:

1. Islam (dan juga Al-Qur’an) telah tersebar ke berbagai penjuru secara merata, dan telah lama sudah umat Islam hidup bersama Al-Qur’an. Dengan demikian bagi Utsman tidak mungkin ia melakukannya. Orang yang lebih kuat darinya saja tak mungkin melakukannya sebelumnya, apa lagi Utsman bin Affan. Karena masalah-masalah lain saja masyarakat sampai memberontak dan juga membunuhnya; apa lagi jika ia mentahrif Al-Qur’an?!

2. Mengurangi atau menghapus ayat-ayat Qur’an, jika ayat-ayat itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan kekhalifahannya, mana mungkin Utsman mau melakukannya? Justru akan memperbanyak masalah yang bakal dihadapinya. Jika ayat-ayat tersebut bertentangan dengan kekhalifahannya, jelas sejak awal tidak mungkin ia menjadi khalifah.

3. Jika Utsman mentahrif Al-Qur’an, para penentangnya dengan segera menyalakan lampu hijau untuk memberontak dan mengadilinya. Sedangkan kita sama sekali tidak pernah mendengar ada yang menuduh Utsman mentahrif Al-Qur’an.

4. Jika ia memang telah melakukannya, Imam Ali as pasti dengan tegas pula berhadapan dengannya. Sedang dalam sejarah kita melihat Imam Ali tidak pernah menyikapi Utsman bin Affan atas dasar tuduhan mentahrif Al-Qur’an, namun karena masalah-masalah lainnya, seperti korupsi yang dilakukannya.

Imam Ali as berkata: “Demi Tuhan, jika engkau telah mengambil harta yang bukan hakmu, lalu dengan harta itu engkau menikahi istri-istrimu dan membeli budak-budakmu, sungguh semua itu akan aku kembalikan ke Baitul Mal. Sesungguhnya dalam keadilan terdapat keleluasaan. Bagi yang merasa susah dengan keadilan, hendaknya faham bahwa kezaliman lebih susah dari itu.”

Kemungkinan Keempat: Terjadinya tahrif Qur’an di jaman Bani Umayah

Dengan pembahasan sebelumnya, kurang lebih pembahasan berikut ini juga dapat lebih jelas pula. Jelas Hajjaj bin Yusuf Tsaqafi ataupun selainnya tidak mungkin mentahrif Al-Qur’an. Karena saat itu Islam dan Al-Qur’an telah menyebar ke timur dan barat dunia.

Selain itu, mereka tidak punya alasan yang tepat untuk melakukannya. Bahkan jika mereka sampai berani mentahrif Al-Qur’an, pondasi kekuasaannya pasti akan hancur runtuh.[1]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tahrif Qur’an dari sejak jaman para khalifah hingga saat ini tidak mungkin sama sekali. Kita pun pada dasarnya tidak perlu bersusah payah untuk membuktikan tidak ditahrifnya Al-Qur’an, karena kenyataan yang ada di tengah-tengah umat Islam tahrif Al-Qur’an adalah hal yang mustahil. Oleh karena itu semua ulama bersepakat bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna sejak diturunkannya dan tak mungkin ada kurang dan lebih di dalamnya.


[1]. Ulumul Qur’an: hal. 99-114, Syahid Sayid Muhammad Baqir Hakim, cet. 3.

Pendapat ulama Syiah tentang tahrif Al-Qur’an

Ulama Islam secara keseluruhan, dan ulama Syiah secara khusus, berabad-abad menyatakan bahwa Al-Qur’an terjaga dari tahrif dan perubahan. Orang-orang yang menuduh Syiah meyakini tahrif Qur’an sama sekali tidak mau mendengar perkataan para ulama yang dinyatakan secara jelas dan tegas tentang keterjagaan kitab suci itu, dan mereka hanya memanfaatkan perkataan segelitir ulama dengan pendapatnya yang keliru. Padahal di setiap madzhab ada segelintir kelompok yang tidak memiliki pemikiran yang sesuai dengan madzhab aslinya.

Di bagian ini kami akan menjelaskan pendapat para ulama Syiah sepanjang sejarah tentang keterjagaan Qur’an dari tahrif:

1. Syaikhul Muhadditsin, Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain Shaduq (wafat tahun 381 H.) dalam sebuah risalah tentang akidah Syiah menjelaskan:

“Keyakinan kami adalah, Al-Qur’an yang telah diturunkan Allah swt kepada nabi-Nya adalah Al-Qur’an yang ada di tangan masyarakat saat ini, dan tidak lebih. Jumlah surahnya pun, sebagaimana yang diketahui oleh kita semua, 114 surah…” Lalu ia menambahkan: “Orang-orang yang menuduh kami meyakini bahwa Qur’an lebih dari apa yang ada sekarang adalah para penipu.”[1]

2. Syaikh Mufid (wafat tahun 413 H.) menulis:

“Sekelompok ulama Syiah menyatakan bahwa tak ada sedikitpun bagian Qur’an yang telah terhapus sebagaimana yang ada di Qur’an kita saat ini namun penjelasan-penjelasan ta’wil dan tafsir yang ada di Mushaf Imam Ali as telah terhapus. Ta’wil dan tafsir itu meskipun merupakan penjelas hakikat tanzil, namun bukan bagian dari wahyu yang diturunkan Allah swt kepada nabi-Nya. Menurutku penjelasan ini lebih benar daripada pendapat yang menyatakan bahwa beberapa kalimat Al-Qur’an ada yang dihapus. Aku memilih penjelasan tersebut, dan aku memohon Allah swt untuk menunjukkan aku jalan yang benar.”[2]

3. Sayid Murtadha Allamul Huda (wafat tahun 436 H.) menulis:

“Pengetahuan kita terhadap benarnya penukilan Al-Qur’an, bagai pengetahuan kita terhadap seluruh apa yang ada di tanah Arab, kejadian-kejadian besar sepanjang sejarah, buku-buku ternama dan syair-syair Arab yang tertulis. Sesungguhnya upaya penukilan dan penjagaan Qur’an dilakukan dengan motivasi dan usaha yang sangat besar sekali dan tak dapat kita bayangkan. Karena Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat nabi dan sumber syariat serta aturan-aturan agama, dan seluruh ulama Islam telah berusaha sebaik-baiknya untuk menjaga peninggalan suci itu, sampai-sampai perbedaan pendapat terkecil seperti terkait dengan harakat sebuah ayat saja pun mereka memahaminya dengan baik. Dengan kenyataan seperti ini, bagaimana mungkin Al-Qur’an telah dirubah dan dikurangi?”

Lalu ia juga menambahkan: “Pengetahuan terhadap bagian-bagian Qur’an bagaikan pengetahuan terhadap seluruh Qur’an. Hal ini sama seperti kitab-kitab yang tersusun seperti kitab Sibawaih atau selainnya. Seandainya ada satu bab yang ditambahkan atau dikurangi dari kitab Sibawaih, semua orang pasti mengetahuinya. Jelas perhatian umat Islam terhadap Al-Qur’an lebih dari segalanya, lebih dari perhatian mereka terhadap kitab-kitab yang bahkan ditulis oleh ulama mereka.”

Ia berkeyakinan bahwa Al-Qur’an di jaman nabi Muhammad saw adalah sama seperti apa yang ada di tangan kita saat ini. Dalam masalah ini ia berdalil demikian:

Seluruh Qur’an di jaman Rasulullah saw telah ditulis dan dihafal. Beliau sendiri menunjuk beberapa sahabat untuk menghafalkan Al-Qur’an. Al-Qur’an yang mereka tulis pun dibacakan dengan jelas di hadapan nabi. Orang-orang seperti Abdullah bin Mas’ud dan Ubai bin Ka’ab telah mengkhatamkan Qur’an berkali-kali di hadapan nabi dengan tujuan jika sekiranya ada kesalahan beliau dapat membenarkannya. Itu semua membuktikan bahwa pada jaman nabi Al-Qur’an telah disusun dengan utuh.”

Sayid Murtadha menyatakan ketidak setujuannya terhadap pendapat sebagian kelompok Imamiyah dan Hasywiyah yang tidak meyakini keterjagaan Al-Qur’an dari perubahan, karena mereka dan para Ashabul Hadits selalu bertumpu pada riwayat-riwayat yang lemah yang mereka kira shahih dan dapat dipercaya. Padahal kita tidak dapat berdalih sama sekali dengan hadits-hadits yang sanad dan dilalahnya (penunjukannya) hanya bersifat dugaan.[3]

Sikap Sayid Murtadha tersebut sangat tegas sekali sehingga tak sedikit ulama Ahlu Sunnah yang berkata: “Ia mengkafirkan orang-orang yang meyakini Al-Qur’an telah ditahrif.” Ibnu Hajar ‘Asqalani menukil dari Ibnu Hazm: “Sayid Murtadha termasuk pembesar Mu’tazilah dan ia adalah Imamiah, namun ia mengkafirkan orang-orang yang meyakini bahwa Qur’an telah ditambahi atau dikuraingi.” Begitu pula Abul Qasim Radhi dan Abu Ali Thusi yang termasuk kawannya memiliki keyakinan yang sama.[4]

4. Syaikh Thusi yang dikenal dengan Syaikh Thaifah (wafat tahun 460 H.) dalam mukadimah tafsirnya menulis:

“Maksud dari kitab tafsir ini adalah menjelaskan makna-makna dan tujuan-tujuannya. Adapun tentang masalah ditambah atau dikuranginya Qur’an, adalah pembahasan yang tak dapat dibahas di kitab ini. Karena telah disepakati dengan ijma’ bahwa tidak benar adanya kemungkinan penambahan dalam Al-Qur’an. Tentang pengurangan Al-Qur’an, apa yang kita fahami dari pendapat umat Islam adalah tak ada pengurangan dalam Al-Qur’an. Pendapat madzhab kami yang benar adalah batilnya pendapat pengurangan Al-Qur’an. Dan sayid Murtadha pun telah membuktikan hal ini dan menekankannya, dan dhahir riwayat pun juga menunjukkan akan hal tersebut.

Memang ada beberapa riwayat tentang telah dikuranginya Al-Qur’an, atau dipindahkannya antara satu ayat dengan ayat lainnya dalam Qur’an. Namun karena riwayat-riwayat itu adalah khabar wahid, oleh karenanya kita tidak bisa terlalu mempercayai dan mengamalkannya. Ataupun jika kita anggap riwayat-riwayat itu benar, itu pun sama sekali tidak merugikan Al-Qur’an yang ada saat ini, karena tidak ada satupun yang meragukan kebenaran Qur’an yang ada di tangan kita sekarang dan tak ada pula yang membatilkannya.”[5]

5. Almarhum Thabrasi yang disebut dengan Aminul Islam (wafat tahun 548 H.) menulis:

“Pembahasan tentang dikurangi atau ditambahkannya Al-Qur’an bukanlah pembahasan tafsir. Tentang penambahan Al-Qur’an, secara ijma’ semua berpendapat bahwa itu tak mungkin. Adapun tentang pengurangan Qur’an,  sekelompok dari kawan kami dan juga sekelompok dari Hasywiyah berpendapat bahwa ada bagian yang telah dikurangi dari Al-Qur’an dan dirubah. Pernyataan yang benar di madzhab kami adalah bahwa semua pendapat itu batil. Sayid Murtadha pun dalam Jawab Al-Masail Al-Tharablusiyat telah menjawab pendapat itu dengan tegas dan rinci.”[6]

6. Sayid Abul Qasim Ali bin Thawus Hilli (wafat tahun 664 H.) menyatakan bahwa Al-Qur’an terjaga dari pengurangan dan penambahan, sebagaimana Akal telah menghukumi seperti itu, dan begitu juga syariat.[7]

Ia mengingkari apa yang diriwayatkan oleh Ahlu Sunnah dari Utsman dari Aisyah tentang adanya kesalahan dalam Al-Qur’an. Ia berkata:

“Apakah semua orang tidak heran akan sebuah kaum yang telah menyingkirkan Ali bin Abi Thalib, seorang lelaki Arab paling fasih dan paling faham terhadap Al-Qur’an setelah Rasulullah saw, lalu bertanya kepada Aisyah? Apakah orang-orang yang bijak tak faham bahwa hal itu dilakukan hanya karena rasa iri dan hasud…? Jika orang-orang Yahudi dan Zindiq mendengar Muslimin meyakini adanya kesalahan Al-Qur’an, pasti itu akan dibuat senjata bagi mereka untuk menyerang kita.”[8]

7. Allamah Hilli (wafat tahun 726 H.) dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya menulis:

“Ada yang bertanya kepada kami apakah benar kami meyakini bahwa Al-Qur’an telah ditambah atau dikurangi, atau urutannya telah dirubah? Atau semua itu tidak benar?

Hakikat yang sebenarnya adalah, tidak ada penambahan dan pengurangan dalam Al-Qur’an, dan tidak juga yang didahulukan atau diakhirkan dalam kitab suci itu. Demi Tuhan kami berlindung kepada Allah swt dari orang-orang yang punya keyakinan seperti ini. Karena orang yang berkeyakinan sedemikian rupa telah meragukan mukjizat nabi Muhammad saw yang telah sampai ke tangan kita secara mutawatir.[9]

8. Syaikh Zainuddin Bayyadhi Amili (wafat tahun 877 H.) menulis:

“Kita meyakini kemutawatiran Al-Qur’an dan seluruh bagiannya. Seluruh upaya dan usaha telah dikerahkan untuk menjaga kitab suci itu bahkan sampai-sampai banyak yang berikhtilaf pada nama-nama surah dan tafsirnya. Sebagian yang lain banyak yang tidak sekedar menghafalnya saja, namun juga berfikir dan mengkajinya, memahami makna dan hukum-hukumnya. Jika memang ada perubahan dalam Al-Qur’an, tiap orang yang berakal pun pasti faham, meskipun ia juga bukan seorang hafidz Qur’an. Karena dengan adanya pengurangan dan penambahan Al-Qur’an, kefasihan dan kedalaman maknanya akan terpengaruh.[10]

9. Syaikh Ali bin Abdul Ali Karki Amili, yang dikenal dengan Muhaqqiq Tsani (wafat tahun 940 H.) menulis sebuah risalah menentang pengurangan Qur’an. Mengenai riwayat-riwayat yang menjelaskan terjadinya pengurangan dalam Al-Qur’an ia berkata:

“Jika ada sebuah hadits yang bertentangan dengan dalil dan sunah mutawatir, atau ijma’, dan juga tak mungkin ditakwil dengan berbagai cara, maka hadits seperti itu harus diingkari.”[11]

10. Syaikh Fathullah Kasyani (wafat pada tahun 988 H.) dalam mukadimah Tafsir Manhajus Shadiqin, dalam menafsirkan ayat yang berbunyi “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya,” menyatakan bahwa tidak adak kekurangan apapun dalam Al-Qur’an.

11. Sayid Nurullah Syusytari yang dikenal dengan Qadhi Syahid (yang syahid pada tahun 1019 H.) dalam kitab Mashaib An-Nawashib fil Imamah wal Kalam menekankan keterjagaan Al-Qur’an dari pengurangan. Ia berkata:

“Apa yang dituduhkan kepada Syiah bahwa para penganut madzhab itu meyakini tahrif Al-Qur’an, sebenarnya sama sekali umat Syiah tidak berkeyakinan seperti itu, kecuali segelintir orang yang tidak terlalu penting bagi Syiah. Lalu keyakinan mereka dianggap sebagai keyakinan seluruh umat Syiah?”[12]

12. Syaikh Muhammad bin Husain yang dikenal dengan Syaikh Baha’i (wafat tahun 1030) berkata:

“Pendapat yang benar adalah, bahwa Al-Qur’an terjaga dari segala bentuk tahrif dan perubahan. Ayat Al-Qur’an sendiri adalah bukti jelas untuk keterjagaannya. Ia berfirman: “Dan kami sendiri yang menjaganya.” Apa yang ramai dibahas oleh banyak orang tentang nama Ali bin Abi Thalib telah dihapus dari ayat yang berbunyi “Wahai utusan Allah, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu,” yang mana menurut mereka bagian yang terhapus itu adalah: “tentang Ali bin Abi Thalib,” menurut para ulama tidak benar dan tak bisa diterima.”[13]

13. Syaikh Muhammad Muhsin yang dikenal dengan Faidh Kasyani (wafat tahun 1019) menulis:

“Jika kita menerima tahrif dalam lafadh-lafadh Al-Qur’an, maka tidak akan ada yang tersisa bagi kita untuk dipercaya. Karena kalau begitu mungkin saja setiap ayat yang kita baca telah ditahrif dan bukan sebagaimana yang telah diturunkan dari Allah swt. Lalu jika demikian maka Qur’an tidak hujjah lagi bagi kita, seluruh aturan-aturan di dalamnya tak dapat dijalankan, dan ajarannya sia-sia…”

Setelah itu beliau menukilkan pendapat Syaikhk Shaduq dan membawakan beberapa riwayat.[14]

Dalam tafsir ayat yang berbunyi: “Dan kita sendiri yang menjaganya,” ia berkata: “Maksudnya adalah Kami menjaganya (Al-Qur’an) dari pengurangan, penambahan dan perubahan.”[15]

14. Syaikh Muhammad bin Hasan Hurr Amili (wafat pada tahun 1104 H.) menulis:

“Jika seseorang bersedia mengkaji riwayat-riwayat dan juga sejarah, pasti ia akan yakin bahwa Al-Qur’an berada di prioritas tertinggi bagi umat Islam. Ribuan sahabat menghafal dan membaca Al-Qur’an, dan sejak jaman Rasulullah saw Qur’an telah disusun dengan bentuk satu kesatuan yang utuh.”[16]

15. Allamah Muhammad Baqir Majlisi (wafat pada tahun 1111 H.) pernah menulis:

“Banyak sekali riwayat dari para Imam yang memerintahkan kita untuk membaca Qur’an sebagaimana yang ada saat ini, serta melarang kita untuk melanggarnya atau bertindak lancang terhadapnya seperti menambah atau menguranginya. Mereka pun melarang kita untuk membaca huruf-huruf yang ditambahkan pada Qur’an karena beberapa riwayat. Dengan tegas mereka memerintahkan kita untuk membaca Al-Qur’an yang mutawatir ini dan meninggalkan akhbar wahid (riwayat-riwayat yang tidak mutawatir). Karena mungkin saja riwayat yang tidak mutawatir itu salah.”[17]

16. Sayid Muhammad Thabathabai yang dikenal dengan Bahrul Ulum (wafat pada tahun 1212 H.) menulis:

“Kitab suci Allah swt, yaitu Al-Qur’an, Al-Furqan, adalah cahaya dan mukjizat sepanjang masa, merupakan kitab yang benar (al-haqq) yang tidak ada kebatilan di dalamnya. Qur’an ini diturunkan dari sisi Allah swt yang maha terpuji. Tuhan telah menurunkannya dalam bahasa Arab yang jelas untuk orang-orang yang bertakwa dan umat manusia…”[18]

17. Syaikh Ja’far Kasyiful Ghita (wafat pada tahun 1228 H.) menulis:

“Tidak diragukan bahwa atas kehendak Tuhan Al-Qur’an ini terjaga dari tahrif dan perubahan. Sebagaimana salah satu ayatnya menyatakan hal itu dengan jelas. Seluruh ulama Islam pun bersepakat tentang itu, dan tidak menghiraukan pendapat-pendapat minoritas yang bertentangan dengan mereka. Riwayat-riwayat yang menjelaskan kekurangan Al-Qur’an adalah riwayat-riwayat batil. Karena jika tidak pasti diriwayatkan secara mutawatir. Riwayat-riwayat itu dibuat dengan motivasi-motivasi tertentu, dan musuh-musuh Islam pun menggunakannya sebagai senjata menyerang Islam. Bagaimana mungkin tahrif Qur’an terjadi? Sedangkan umat Islam sejak awal telah menjaga dan menghafal setiap hurufnya? Oleh karena itu riwayat-riwayat tersebut harus diperiksa kembali.”[19]

18. Sayid Muhsin A’raji Kadzimi (wafat tahun 1228 H.) menulis:

“Ahlu Sunah tidak menerima Mushaf Ali bin Abi Thalib, karena mencakup tafsir dan takwil ayat-ayat Al-Qur’an (karena saat itu sudah biasa takwil dan tafsir ditulis di samping ayat-ayat Al-Qur’an. Imam Ali as saat berhadapan dengan Umar bin Khattab, tentang mushafnya berkata:

“Aku membawakan sebuah mushaf yang sempurna yang mencakup takwil dan tanzil, muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh.”

Riwayat tersebut membuktikan bahwa mushaf yang dimiliki beliau lebih dari tanzil (Qur’an yang telah diturunkan sebagaiamana yang ada sekarang), karena mencakup catatan-catatan penting seputar tafsir, takwil, nasikh, mansukh, muhkam dan mutasyabih.”[20]

19. Sayid Muhammad Thabathabai (wafat pada tahun 1242) menulis:

“Tak diragukan bahwa Al-Qur’an dan seluruh bagiannya adalah mutawatir. Adapun tentang tempat dan urutan bagian-bagian dairi Qur’an, ulama Ahlu Sunah menyatakan itu pun mutawatir pula. Karena hal itu merupakan mukjizat abadi juga, dan para pendahulu kita melakukan usaha sebesar-besarnya untuk menukilkan bagian-bagian Qur’an dengan urutannya secara mutawatir.”[21]

20. Imam Khumaini ra (wafat pada tahun 1409 H.) menulis:

“Jika seseorang menyadari seperti apa umat Islam memberikan perhatiannya terhadap Al-Qur’an seperti menjaga dan menghafalkannya, pasti ia menyadari kebatilan riwayat-riwayat tahrif. Riwayat-riwayat itu pada dasarnya lemah dan tak dapat dijadikan dalil. Atau bahkan riwayat-riwayat itu palsu yang sama sekali tidak masuk akal. Kalau memang riwayat-riwayat itu benar, maka harus difahami dengan teliti dan perlu dikaji kembali. Karena bisa jadi yang dimaksud tahrif adalah perubahan dalam penafsiran dan pentakwilan, bukan perubahan dalam lafadz-lafadz dan huruf-huruf Qur’an yang sudah ada.

Untuk membahas masalah itu perlu ditulis satu buku tebal khusus yang membahas sejarah Al-Qur’an dan fase-fase yang telah dilewatinya secara detil. Singkatnya kitab suci Al-Qur’an adalah apa yang ada di tangan kita saat ini dan tidak adak kurang atau lebihnya. Adapun ikhtilaf dalam qira’ah adalah hal-hal baru yang muncul karena perbedaan ijtihad dan tak ada kaitannya dengan wahyu yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw.”[22]

21. Sayid Abul Qasim Khu’i (wafat pada tahun 1413 H.) menulis:

“Pendapat tahrif dan telah dirubahnya Al-Qur’an adalah pendapat yang lemah dan tak berdasar, yang mana tak ada satu pun orang berpendapat seperti itu kecuali akalnya tak berguna, atau tidak teliti dalam mengkaji masalah, atau mungkin karena pendapat pribadi dengan tujuan-tujuan tertentu ia berpendapat seperti itu. Karena ada orang-orang tertentu yang telah dibutakan oleh kecintaan, mereka menerima riwayat-riwayat seperti ini tanpa melakukan kajian terlebih dahulu. Adapun orang yang berakal dan pintar, tanpa ragu ia menolak pendapat sedemikian rupa.”[23]

22. Syaikh Luthufllah Gulpaygani menulis:

“Al-Qur’an yang ada di tengah-tengah kita saat ini adalah kitab suci kita, semua madzab Islam, dan sumber utama syariat kita. Baru setelah itu sunah adalah sumber kedua kita, itu pun dengan syarat tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab yang kita jadikan sumber dalil dan penyelesai ikhtilaf bersama. Jadi Ahlu Sunah dan Syiah semuanya beriman kepada kitab suci ini dan berpegang teguh kepada muhkamat-nya (ayat-ayat muhkam-nya) dan dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabihat kita berkata: “Kami beriman kepadanya. Seluruhnya dari sisi tuhan kami.”.”[24]


[1]. Kitab I’tiqadat Al-Imamiyah (dicetak dengan Syarah Bab Hadi Asyar): hal. 93-94.

[2]. Awailul Maqalat fil Madzhahibil Mukhtarat: hal. 55-56.

[3]. Majma’ul Bayan: jil. 1, hal. 15, menukil dari Al-Masail Al-Tharablusiyat, Sayid Murtadha.

[4]. Lisanul Mizan: jil. 4, hal. 223.

[5]. Al-Tibyan fi Tafsiril Qur’an: jil. 1, hal. 3.

[6]. Majma’ul Bayan: jil. 1, hal. 15.

[7]. Sa’ad Su’ud: hal. 192.

[8]. Ibid: hal. 266.

[9]. Ajwibatul Masail Mahnawiyah: hal. 121.

[10]. Al-Shirath Al-Mustaqim: jil. 1, hal. 45.

[11]. Mabahits fi Ulumil Qur’an, Khaththi: Syarah Al-Wafiyah fi Ilmil Ushul telah menukilkannya.

[12]. ‘Ala’urrahman, Balaghi: jil. 1, hal. 25; Qaulul Imamiyah Bi ‘Adamin Naqishah fil Qur’an, menukil dari Mashaibun Nawashib; Asy-Syi’ah fil Mizan: hal. 314.

[13]. ‘Ala’urrahman: hal. 26.

[14]. Al-Wafi: jil. 1, hal. 273-274.

[15]. Ash-Shafi fi Tafsiril Qur’an: jil. 3, hal. 348.

[16]. Risalah ini disebutkan dalam kitab Al-Fushul Al-Muhimmah, Sayid Syarafuddin: hal. 168.

[17]. Biharul Anwar: jil. 92, hal. 74.

[18]. Al-Fawaid fi Ilmil Ushul, Khaththi: Mabhats hujjiyah dhawahiril kitab.

[19]. Kasyful Ghita’ fil Fiqh, Kitabul Qur’an: hal. 299.

[20]. Syarh Al-Wafiyah fi Ilmil Ushul: tulisan tangan.

[21]. Mafatihul Ushul: Mabhats Hujjiyatul Dhawahir.

[22]. Tadzhibul Ushul: jil. 2, hal. 165.

[23]. Al-Bayan fi Tafsiril Qur’an, Khu’i: hal. 259.

[24]. Al-Qur’an Mashunun Anit Tahrif: jil. 5, cet Darul Qur’an Al-Karim; Shiyanatul Qur’an Minat Tahrif, Ayatullah Ma’refat: hal. 44-70; Al-Tahqiq fi Nafy At-Tahrif: hal. 10-26.

Faktor diciptakannya syubhat tahrif Qur’an

Jelas bahwa tujuan penciptaan syubhat-syubhat ini oleh musuh-musuh lama dan baru kita di antaranya adalah:

1. Menghancurkan dalil kebenaran Islam yang paling penting, yaitu Qur’an;

2. Menggugurkan sumber kebenaran Islam dan keabadian Islam;

3. Membuat umat Islam ragu dalam berpegang teguh pada kitab suci yang merupakan poros persatuan mereka. Dengan demikian meskipun mereka tidak bisa menarik Muslimin dari akidahnya, paling tidak mereka telah membuat umat Islam ragu pada agamanya;

4. Perpecahan umat sehingga tiap kelompok saling menuduh kelompok lainnya telah melakukan tahrif Qur’an;

5. Menggiring umat Islam ke jalur sekularisme dan membuat mereka ragu dengan ayat-ayat Tuhan yang pasti;

6. Tak mustahil bahwa pelaku di balik penciptaan syubhat seperti ini adalah orang-orang Yahudi atau Nasrani; karena Al-Qur’an telah mencela perilaku mereka terhadap kitab-kitab suci mereka dengan cara melakukan perubahan dan tahrif padanya. Oleh karena itu mereka berusaha menunjukkan bahwa Qur’an adalah kitab yang telah ditahrif pula. Jika mereka berhasil membuat kita berfikiran bahwa Qur’an telah ditahrif, maka mereka merasa Islam tak ada bedanya dengan agama mereka.

Allah swt berfirman: “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang [timbul] dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]:109).

Kalung penuh berkah

Pada suatu hari, datang seorang fakir ke Masjid Nabawi. Di situ rasulullah saw sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya. Beliau dan sahabat-sahabatnya tidak memiliki apapun untuk diberikan kepadanya. Oleh karena itu nabi berkata: “Pergilah ke rumah Fathimah Azzahra (putriku).”

Orang itu pun pergi mengetuk rumah Fathimah Azzahra. Fathimah membukakan pintu, dan menanyakan apa perlunya.

Fathimah Azzahra pun tidak memiliki apa-apa saat itu, kecuali kalung yang ia kenakan di lehernya. Ia pun memberikan kalung tersebut.

Orang miskin mengambilnya, lalu pergi dan berdoa untuk beliau.

Di jalan, Ammar bin Yasir bertemu denga lelaki tersebut. Ia tahu bahwa kalung itu milik Fathimah Azzahra putri nabi. Ammar bin Yasir membeli kalung itu lalu memberikan uang secukupnya untuk keperluan si miskin. Lalu Ammar memerintahkan budaknya untuk mengantarkan kalung tersebut kepada Fathimah Azzahra dengan imbalan ia bakal dibebaskan.

Setibanya di rumah Fathimah Azzahra, budak tersebut berkata: “Sungguh penuh berkah kalung ini. Dengannya seorang miskin menjadi kenyang dan kebutuhannya terpenuhi, lalu karenanya juga seorang budak dibebaskan, dan kalung itu pun kembali ke pemiliknya.”

Tahrif Qur’an: Ayat radha’ kabir ?

Diriwayatkan dari Aisyah:

“Ayat rajam dan ayat radha’ kabir telah diturunkan dan ada dalam mushaf yang kusimpan di bawah tempat tidurku. Saat Rasulullah saw meninggal, kami sibuk mengurusi jenazah beliau, lalu datang seekor hewan (seperti ayam) memakannya (ayat itu).”[1]

Seolah-olah riwayat itu menunjukkan bahwa selain Aisyah tidak ada orang lain yang menjaga, menghafal dan membaca Al-Qur’an. Dan itu aneh sekali. Memangnya di mana sahabat-sahabt, para penulis wahyu dan para penghafal Qur’an lainnya? Sarkhasi berkata:

“Hadits Aisyah tidak benar. Karena meskipun tulisan Aisyah telah dimakan ayam, namun Qur’an telah dihafal di dada-dada dan apa susahnya bagi mereka untuk mencantumkan ayat itu di mushaf-mushaf mereka? Karena itu hadits tersebut adalah palsu dan tak berdasar.[2]

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan ayat rajam, ayat seperti itu tidak bisa diaku sebagai bagian dari Qur’an karena merupakan khabar wahid dan hukum rajam termasuk dari sunah-sunah nabi yang tetap.

Adapun hukum tentang dengan menyusui sebanyak sepuluh kali maka terwujudlah hukum radha’ah, hanya Aisyah saja yang menukilkannya dan istri-istri nabi yang lainnya bertentangan dengannya, tak satupun dari mereka yang menerima pendapat Aisyah. Begitu pula Ibnu Mas’ud menolak hal itu dari Abu Musa Asy’ari dan berkata:

Radha’ah dapat terjadi ketika meminum susu telah menumbuhkan daging dan darah. Setelah diingkari oleh Ibnu Mas’ud, Abu Musa Asy’ari tidak mempedulikan pendapat ini.”[3]

Kebanyakan para sahabat, para penulis wahyu, para hafidz dan para pengumpul Qur’an tidak menerima hukum itu dan hanya Aisyah saja yang berpendapat bahwa dengan menyusui selama 10 kali hukum radha’ah dapat terwujud.

Jikapun masalah tersebut memang benar, pada hakikatnya itu merupakan riwayat yang dinukil Aisyah dari Rasulullah saw yang ia kira sebagai ayat Al-Qur’an, lalu ia menulisnya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Barra’ bin Azib:

“Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah dan para malaikat menyampaikan salam kepada orang-orang yang berada di barisan pertama.”[4] Dan telah diriwayatkan dari Aisyah: “Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah dan para malaikat menyampaikan salam kepada orang-orang yang berada di shaf pertama.”[5] Mungkin tulisan itu ditulis di pinggiran mushaf lalu dipikirnya bagian dari Qur’an. Karena sudah biasa para penulis wahyu mencatat hal yang bagi mereka penting di pinggiran mushaf mereka.

Setiap orang yang jeli pun bakal menyadari perbedaan ayat-ayat Qur’an yang sebenarnya dengan yang tidak; karena dari segi sastra dan muatan kata-kata, sangat jauh berbeda. Oleh karenanya dapat diketahui dengan mudah bahwa itu bukanlah ayat-ayat Qur’an. Mungkin seseorang akan bertanya-tanya, bagaimana bisa tulisan-tulisan yang bukan ayat Qur’an diletakkan bersama ayat-ayat Qur’an? Tentang hal ini Syaikh Balaghi dalam mukadimah tafsir Ala’ur Rahman secara detil telah menjelaskannya dan silahkan anda merujuk padanya. Jika kita perhatikan, terasa jelas sekali bahwa itu semua adalah sunah, hadits atau hukum fikih yang dikira oleh sebagian orang sebagai ayat Al-Qur’an. Sebagaimana sebagaian orang mengira riwayat yang berbunyi: “Anak adalah untuk pernikahan dan untuk yang berzina adalah batu (rajam),” sebagai ayat Qur’an! Padahal tak ada yang meragukan bahwa itu adalah hadits. Selain itu, tulisan-tulisan yang mereka kira ayat Qur’an kebanyakan berbeda-beda penukilannya; jika memang Qur’an, pasti tidak ada perbedaan penukilan dan kata-kata di dalamnya.


[1]. Musnad Ahmad: jil. 6, hal. 269; Al-Muhalla: jil. 11, hal. 235; Sunan Ibnu Majah: jil. 1, hal. 625; Al-Jami’ Liahkamil Qur’an: jil. 14, hal. 113.

[2]. Ushul Sarkhansi: jil. 2, hal. 79.

[3]. Jami’ Bayan Al-Ilm: jil. 2, hal. 105.

[4]. Al-Mushannaf: jil. 2, hal. 484.

[5]. Al-Mustadrak: jil. 1, hal. 214.

Macam-macam naskh

Al-Qur’an membagi naskh menjadi tiga macam:

1. Naskh hukum, tanpa naskh tilawah: Al-Qur’an telah memberikan penjelasan tentang hal ini dan naskh seperti ini telah dikenal baik oleh semua ulama dan para mufasir, yang mana masuk akal dan dapat diterima. Karena sesungguhnya hukum-hukum syar’i tidak diturunkan secara langsung sekaligus, namun bertahap, supaya umat terbiasa dengannya dan akal-akal memahaminya. Secara bertahap hukum-hukum yang pernah turun sebelumnya digantikan dengan hukum-hukum yang baru; namun lafadz-lafadz (ayat-ayat) hukum yang lama itu tetap ada karena mengandung rahasia Tuhan yang mendidik dan bermanfaat yang mana hanya Tuhan yang lebih tahu tentang alasannya.

2. Naskh tilawah, tanpa naskh hukum: dalam hal ini, mereka membawakan contoh ayat rajam yang telah dibahas sebelumnya, yang mana ayatnya telah dihapus, namun hukumnya tetap ada sampai sekarang.

3. Naskh tilawah dan hukum: dalam hal ini mereka membawakan ayat radha’ sebagai contohnya.

Tahrif Qur’an: Ayat jihad?

Diriwayatkan dari Umar dari Abdurrahman bin Auf:

“Apakah di antara apa yang telah diturunkan engkau tidak menemukan ayat ini, yang berbunyi:

جاهدوا كما جاهدتم أوَّل مرَّة

“Berjihadlah sebagaimana kalian pernah berjihad untuk pertama kalinya.”

Aku tidak menemukan ayat itu.” Abdurrahman berkata: “Ini termasuk salah satu dari ayat-ayat Qur’an yang ketinggalan da tak dicantumkan dalam Al-Qur’an.”[1]

Perlu dikatakan: Sebagaimana yang kita ketahui, menurut mereka, jika ada yang mengaku memiliki sebuah ayat yang tidak tercantum dalam Al-Qur’an yang ada, mereka memerlukan dua saksi untuk mencantumkannya. Lalu mengapa mereka berdua tidak mengaku dan menjadi saksi bahwa itu adalah ayat Qur’an sehingga dicantumkan? Ini adalah bukti palsunya riwayat itu. Aneh sekali kalau semua qari’ dan hafidz Qur’an tidak tahu akan keberadaan ayat tersebut sedangkan yang mengetahuinya hanya Umar dan Abdurrahman bin Auf saja?!


[1]. Al-Itqan: jil. 3, hal. 84; Kanzul Ummal: jil. 2, hadits 4741.

Tahrif Qur’an: Ayat rajam?

Dari berbagai jalur telah diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkata: Berhati-hatilah kalian, jangan sampai kalian celaka karena ayat rajam. Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika orang-orang tidak akan mengatakan bahwa Umar telah menambahkan sesuatu pada Al-Qur’an, niscaya aku akan menuliskannya:

“Jika seorang lelaki tua berzina dengan wanita tua, maka pasti rajamlah mereka, ini adalah adzab dari sisi Allah, Allah yang maha mulia dan bijaksana.”

Kami selalu membaca ayat itu.[1]

Ibnu Asytah menukilkan: Dalam Al-Mashahaif dari Laits bin Sa’ad disebutkan:

“Umar bin Khattab membawa ayat rajam kepada Zaid bin Tsabit, namun Zaid tidak menerimanya darinya dan tak mencatatnya. Karena merupakan khabar wahid dan tidak ada saksi baginya.”[2]

Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla menyatakan bahwa ayat itu telah di-naskh secara lafadh, namun hukumnya tetap ada.

Ini adalah pernyataan yang salah. Karena jika memang lafadznya mansukh, lalu untuk apa Umar membawakannya untuk dituliskan? Ibnu Dhafr dalam Al-Yanbu’ mengingkari naskh tilawah dan berkata: “Dengan khabar wahid suatu matan (tulisan) tidak bisa diaku sebagai bagian dari Qur’an.”[3]

Abu Ja’far Nuhas berpendapat bahwa itu adalah sunah dan berkata: “Sanad-sanad hadits adalah shahih. Hanya saja itu bukanlah Qur’an yang mana sekelompok jama’ah menukilkannya dari jama’ah lainnya. Oleh karena itu, bisa dianggap sebagai sunah. Umar pun tidak mengakuinya sebagai ayat Al-Qur’an, karena dia berkata: “Jika orang-orang tidak mengatakan bahwa aku telah menambahkan sesuatu pada Qur’an, maka…”.”[4]


[1]. Al-Mustadrak: jil. 4, hal. 359-360; Musnad Ahmad: jil. 1, hal. 23, 29, 36, 40, 50; Thabaqaat Ibnu Sa’ad: jil. 3, hal. 334; Sunan Ad-Darami: jil. 2, hal. 179.

[2]. Al-Itqan: jil. 3, hal. 206.

[3]. Al-Burhan, Zarkasyi: jil. 2, hal. 43.

[4]. An-Nasikh wal Mansukh: hal. 8.

Tahrif Qur’an: Surah khal’ dan hafd?

Diriwayatkan bahwa surah Kal’ dan Hafd ada di mushaf Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu Mas’ud.  Diriwayatkan pula Ummar bin Khattab sering membacanya dalam qunut shalatnya, Abu Musa Asy’ari pun sering membacanya juga. Kedua surah itu adalah:

اللهم إنّا نستعينك و نستغفرك و نثني عليك و لا نكفرك و نخلع و نترك من يفجرك

…dan…

اللهم إيَّاك نعبد و لك نصلّي و نسجد و إليك نسعي و نحفد، نرجو رحمتك و نخشي عذابك، إنَّ عذابك بالكافرين ملحق[1]

Zarqani, Baqillani, Juzairi dan selainnya menyebutnya hanya sebagai doa. Shahib Intishar berkata:

“Doa qunut yang diriwayatkan bahwa Ubai bin Ka’ab pernah menuliskannya di mushafnya, tidak ada dalil yang kuat untuk membuktikan bahwa doa itu adalah bagian dari Al-Qur’an. Itu hanyalah penggalan dari doa. Karena jika itu adalah Qur’an, kami pasti tahu dan kebenarannya pun pasti diakui semua orang.”

Lalu ia berkata:

“Tidak benar jika dituduhkan Ubai bin Ka’ab menambahkan Al-Qur’an. Memang benar diriwayatkan bahwa Ubai bin Ka’ab meletakkan doa tersebut dalam mushafnya, karena ia sering meletakkan doa-doa dan takwil Qur’an dalam mushafnya dan tidak mengaku bahwa semua itu bagian dari Qur’an dan wahyu yang diturunkan kepada nabi.”[2]

Selain itu, doa tersebut juga disebutkan dalab kitab-kitab seperti: Ad-Durr Al-Mantsur, Al-Itqan, Al-Sunan Al-Kubra, dan selainnya dalam berbagai riwayat dari Ibnu Dharas, Baihaqi dan Muhammad bin Nashr, dan mereka tidak mengaku bahwa doa-doa itu bagian dari Al-Qur’an.[3]

Tahrif Qur’an: Ada ayat yang berbunyi: “Jika anak Adam…” ?

Diriwayatkan dari Abu Musa Asy’ari bahwa ia berkata kepada qari’-qari’ Bashrah:

“Saat itu kami sering membaca sebuah surah yang nada dan muatannya sama kerasnya dengan surah Bara’ah dan sekarang aku lupa. Namun aku ingat sepenggal ayat ini:

لو كان لابن آدم واديان من مال لابتغي وادياً ثالثاً و لايملأ جوف ابن آدم الا التراب

“Jika anak Adam memiliki dua lembah harta, ia akan mengharapkan lembah ketiga. Dan tak ada yang bisa memenuhi keinginan anak Adam yang rakus kecuali tanah.”[1]

Ibnu Shalah berpendapat bahwa itu adalah sunah, dan ia berkata:

“Hal itu ditemukan dalam perkataan Rasulullah saw, dan merupakan salah satu dari hadits-hadits beliau. Tidak benar kalau perkataan itu dikira sebagai kalam Allah. Juga ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abbas bin Sahl yang menguatkan hal ini. Ia berkata: Aku mendengar dari Ibnu Zubair berkata di mimbar: Rasulullah saw bersabda: “Jika anak Adam memiliki dua lembah harta, ia akan…”

Zubaidi menyebut hadits itu sebagai hadits mutawatir yang ke-44 dan berkata:

“Lima belas orang sahabat telah meriwayatkan hadits ini.”[2]

Ahmad dalam Al-Musnad telah menukilnya dari Abi Waqid Laitsi dan berkata bahwa itu adalah hadits qudsi.[3]

Adapun yang dinyatakan Abu Musa Asy’ari tentang ada sebuah surah yang nada dan muatannya sama kerasnya dengan surah Bara’ah, jika memang begitu, pasti semua orang juga mengetahuinya, dan Rasulullah saw pasti telah memerintahkan para sahabat untuk menuliskannya serta tidak melalaikannya.


[1]. Shahih Muslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s